HEADLINE

PUISI PUISI ARIEF RAHMANTO (Yogyakarta)_TANGAN MENEMBUS LANGIT_PADA INGATAN BUKU

Redaksi menerima tulisan
Puisi minimal 5 judul, Esai, Cerpen untuk kami Siarkan setiap hari. Semua naskah dalam satu file MS Word dikirim ke e-email: majalahsimalaba@gmail.com
beri subjek_VERSI ONLINE MAJALAH SIMALABA
(Mohon maaf, laman ini belum dapat memberikan honorium)


PUISI PUISI ARIEF RAHMANTO


Tangan Menembus Langit

Ketika firmanNya
menitahkan semesta
yang belum bergerak
seperti semula.

Namun, berbagai cinta menyeru
dan benci menderu seraya berdiri
serupa tabuhan genderang perang
di ambang cakrawala.

Tangan yang menembus langit
menyusun satu demi satu takdir
dari penciptaan terakhir
tentang zaman azali.

Setelah seorang penyair berkata
bahwa aku adalah rahasia
yang akan merobek masa silam
pun meraih masa kini
dan menatap masa depan
menuju puncak realitas
hingga tiada terbatas.

Samirono, 15 Agustus 2017

Pada Ingatan Buku 

Pada ingatan seluruh buku
aku menjelajahi masa lalu
di tengah samudra pilu
bersama mutiara huruf-huruf
tersimpan dalam lembaran kaku
yang terus diasah mata pena
untuk melafalkan kembali
ketika keabadian menanti
dikekalkan oleh tinta darah
para pengukir sejarah.

Yogya, Oktober 2017

Senjakala

Senjakala menyala
melukiskan bianglala
dengan cintaku kepadamu
seperti memandang cakrawala
di kedalaman samudra
yang terkandung mutiara kata-kata
hampir kugenggam dan terlepas
lalu dihancurkan gelombang kencang
sebelum gemuruh badai menentang
bergerak menuju tepian pantai.

Yogya, 27 September 2017

Mulut Malammu

Aku termenung dalam kesendirian
menanti bayangan menyentuhmu
ketika ruangan kamar ini
menggertak mimpiku yang sepi
sebelum mulut sucimu
membasahi mulut kalutku
karena penuh dengan kabut dosa
di tengah sergapan kecemasan
pada malam hari menghampiri perih.

Yogya, 4 Oktober 2017

Gerimis Menangis

Ketika gerimis menangis
di malam dingin
menyentuh mata batinku
yang sedang lenggang.

Sementara kau tak mengerti
kenapa nyanyian liris ini
selalu menjadi simfoni rindu
pada setiap detik-detik rintik.

Setelah lelah mengeluh
dan pergi jauh
dari tubuh gemuruh
aku adalah ruh
akan tetap utuh
bila butuh seluruh.

27 September 2017


Tentang Penulis

Arief Rahmanto tinggal di Kulon Progo, DIY. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 Prodi Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Beberapa puisinya pernah tergabung dalam antologi bersama.

No comments