HEADLINE

KETIKA HASRAT MENJADI PUISI_Puisi Puisi Q ALSUNGKAWA (Sastra Haria)



Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



KETIKA HASRAT MENJADI PUISI

Tiba-tiba kerinduan ini menyengat
ketika hasrat puisi turun ke jalan
ada kalimat latah yang lepas
dari tangkai nasib yang bertualang di ranah minang.

Sejuk angin gunung, hujan memagari sore
menjebak pertemuan, jauh ke larut malam
tanpa sengaja
aku membaca kabut di kelam matamu.

Hai!
Padang Panjang
Pernahkah kau baca surat cintaku?
Yang selalu kuteriakkan di pucuk bukit
melintasi belantara hutan yang kerap kita kagumi
tambatan mata ketika pandangan melesat dari kota.

Dan hari ini
surat cintaku menjelma sajak
agar kerinduan ini, lebih lama bertahan
yang kemudian akan terawat dan abadi di jalur kata-kata.

Lampung Barat, 4 Februari 2018.

(Puisi ini terdapat dalam antologi penyair asia tenggara Epitat Kota Hujan, Padang Panjang 2018)


MENGULANG SESABIT DI LANGIT SIANTAR

Ketika memacari Toba
jejak ini
menyinggahi Siantar
hingga
menitipkan mataku pada suatu malam
dimanjakan tor-tor
tarian itu
adalah separuh tubuhku.

Lama kita tidak bicara
mungkin ia rindu,
seperti halnya aku
dimana
alamat dilipat
catatannya serupa puisi
yang berteriak
ketika aku menjelma pematang.

Hari ini, malam ini
di langit yang sama
sesabit melingkari kotaku
mengembalikan
kenangan
yang pernah kuraba di tubuh Pematangsiantar.

Lampung Barat, 16 Februari 2018.

(Puisi ini terdapat dalam Antologi Pematang Siantar)


MELUKIS HARI ESOK

Ketika fajar menetas
aku titip pesan di ubun ubun puisi
untuk menanyakan
aroma laut
bersama hujan menajamkan rasa rindu pada hijau hamparan sawah
di lembah yang menganak sungai.


Sebagian yang lain dari tubuh ini, bermukim hakikat hidup
dari rahim kawah dan hutan
raut cemas memutar ulang
warna negeri
hanyir hikayat juang
jauh terbenam
di kelam ruang kehilangan
sebab
dinasti mengurung peradaban
dimanipulasi
oleh segelintir kepentingan
alih-alih benalu
bergelayutan membentuk cabang.


Belumlah usai ramalan angin
sebab pucuk pesona
meliuk melingkari langit banyuwangi
ada hasrat yang ketinggalan, tetapi
tidak untuk membatalkan kekaguman
hingga kalimat latah
menampar manusiaku
menarasikan dunia
pula melukis hari esok
di meja yang sama.

Lampung Barat, 7 Maret 2018.

(Puisi ini terdapat dalam antologi puisi Senyuman Lembah Ijen, kemah sastra Banyuwangi)


SAJAK YANG TERTUNDA

Belumlah tumbuh semua biji kekatamu
di bumi yang subur ini
masih meluas semak keangkuhan
di ladang pertiwi
negeri yang kau amanahkan.
Penuh, sesak argumentasi di kota kota
yang memistik hikayat bangsa
tetapi
hanya sebatas kertas
kemakmuran ditukar dongeng belaka.

Aku-

menulis sajak kerinduan
tentang sosok Soekarno pengusung amanah
sekadar pelunas kehausan
yang selalu kubaca
di setiap aku meraba nasib
di negeri yang tak kunjung selesai ini.

Sebenarnya
aku ingin menyebutmu Taj Mahal
tetapi itu milik India
kusebut saja kau adalah Tugu
yang menjadi saksi persimpangan
dengan tujuan yang dirahasiakan masing masing.

Mungkinkah ramalan tentang jalan
masih sempat diselamatkan?
Atau
menjadi
serangkaian puisi
dan setumpuk kabut
dan memudar ketika lupa mulai merenggut
dan petaka berbicara?

Lampung Barat, 5 Januari 2018.
(Puisi ini lolos di event Nasional Bengkulu)

KETIKA WAKTU TAJAM KE HULU

Menemukan kelopak yang teduh
sesabit menziarahi malam
di ruang kata-kata
tempat sekumpulan nasib merakit puisi
ada kecemasan yang singgah
saat melucuti masa lalumu.

Kita tidak mungkin mengelak dari semilir
yang meniupkan banyak nama tertambat
seperti
sebuah perburuan
di usia belasan.

Wahai jiwa yang sunyi!
Sepertinya derap kaki itu tak pernah kembali
sekadar memberi kabar
atau memang
gerimis yang ritmis dibatalkan?

Tak dipungkiri
akar mencengkram
sebab sebatang pohon
melahirkan teduh.

Dan aku, sebuah peralihan
ketika waktu
tajam ke hulu.

Lampung Barat, 24 November 2017.

(Puisi ini terdapat dalam Antologi Puisi Soekarno Cinta Dan Sastra, Bengkulu)

MAJELIS KOSA KATA

Jika di ruang kata kata ini
kita telah merapikan sepasang kursi
agar lebih jauh menyelam, membahasakan hati
mengubah sisi lain
yang disebut keraguan.

Sepasang kehausan-

di antara pagi
menyibak rerimbun daun berlumur embun
koloni kosa-kata yang tak kunjung melahirkan senyuman di bibir kemarau.

Aku-

yang menjelma angin
dari arah yang tak terbaca
menguliti tubuh puisi
memukul pergi raut cemas
dan menyelai lilin
di remang hatimu.

-... ... ... .../

Ketika kita adalah sekumpulan nasib
yang tertatih
di barisan tebing, pahit dilumat tipisnya pengakuan
-mabuk darat
-mabuk keinginan
-mabuk seperangkat kalimat.
Tetapi
ketidaktahuan itu
sebuah ajang pencarian
di ranah kekaguman.

Memungut Desember yang kesekian
menerjemahkan sisa rencana yang belum tunai
karena kita masih terkejut
di republik ini
di sepanjang jalan yang sesak oleh janji kampanye
hingga ke lini entah-berantah
persenyawaan korup itu bercendawan
mencemari kelopak pertiwi  hingga menganak sungai.

-... ... ... .../

Sungguh kita tak bisa dihentikan
selalu merawat kemanusiaan
meski sebagian tubuh ini
terdampar di perantauan
berkelana di pulau pulau
-mendustakan kerinduan
kepada kampung halaman
-mendustakan kepingan kelakar kanak kanak
-mendustakan jernihnya sungai berbatu
-mendustakan perburuan capung dan kupu kupu di padang hijau, yang hingga saat ini kusembunyikan di degub dada.

Hai, kekasih yang remang
kita tak ingin kembali ke langkah yang patah
sejatinya biografi hidup
yang hakikatnya di punggung bukit
bukan di tengah aroma sengit kota kota
atau congkaknya keserakahan penghuni gedung tua
yang hingga saat ini juga
menyisakan sekawanan bingung dan mendung
ringkik yang tak terbaca
di kalangan aliran tepi.

Inilah suara kecil di sudut negeri
rintih ditikam kepalsuan
tetapi
aku memiliki puisi
tempatku bermandikan dan bersuci
mengembalikan damai pada sarangnya
karena dari sekujur tubuh yang lelah
oleh kiasan yang humanis
majas yang dirangkai sedemikianrupa
darilah itu
aku menamai pergolakan
adalah ruang kata kata
yang di dalamnya bercokol
para pembual zaman now.

Lampung Barat, 31 Desember 2017.

(Puisi ini terdapat dalam Antologi Puisi Soekarno Cinta Dan Sastra, Bengkulu)


SAJAKNYA DI PUNGGUNG JATI GEDE

Sungguh kucium kembali aroma dari nadi, kisaran 800 meter membentang 'Darmaraja'
warna kegetiran yang terkubur, tapak alur 'Lingkar jati'.

Dan, pernah kusandarkan punggung ini
bertahun silam di 'Jembatan Jati Gede' bahkan sajak tanpa judul, kulipat menjelma perahu kertas yang kulepas pada genangan
lalu mengarungi menemukan nasibnya sendiri.

Hai, masihkah riak di sana
mengingat teriakan yang bungkam dari orang orang sekitar pemukiman?
Atau sengaja melupakan sajak sajak tanpa judul?
Sebab Ia nurani yang polos, ketika iming iming menjadi alasan yang dibenar-benarkan.

Baiklah, kembali kutuliskan sajak, sedikit menambahkan judul
untuk sekian kalinya aku menikmati warna langit 'Sumedang' yang saat ini jauh di punggungku.

Maka-

aku takkan melepasnya pada pelabuhan sungai
tetapi kulayarkan sajak-puisi dalam 'Samudra Antologi Jati Gede'.

Lampung Barat, 2 Mei 2017.

(Puisi ini terdapat dalam antologi Langit Senja Jati Gede)


TERJAGA DI LARUT MALAM

Gerangan ada yang hilang
kumencari-cari
keindahan ketika lelap.

Entah-

kemana lagi kutemukan
hingga di sela kantuk, menyeret tubuh ini
membasuhnya dan bersuci.

Hasrat di hati
menemukan kembali kehilangan
dalam dua kali dua sujud
terus kucari
hingga menjumpai Tuhan.

Lampung Barat, 2 Mei 2017.
(Puisi ini terdapat dalam antologi Langit Senja Jati Gede)


SUJUD INI BELUMLAH YANG TERBAIK

Tuhan?
Ajarilah aku dengan bahasa yang setara
seukuran penghuni kepala.

Dan, betapa indah bila segelintir hati
tetap menjadi tumpuan
lalu berdiskusi menjelma; Benar, bahkan halal dikonsumsi para musapir kata kata.

Kepada-Mu: Tuhan

untuk, entah ke sekian kalinya aku merengek
betapa ingin, getir menjadi nikmat, pahit familiar kulumat.

Ada belahan rasa
tak bermukim, selalu meronta memukul degub jantung
sebab sepotong perangkat hidup tak kunjung beralamat.

Adakah pedih ini bisa kunikmati?
Sementara tubuh ini limbung
dan seperti biasa
sujud ini belumlah yang terbaik aku persembahkan.

Lampung Barat, 30 April 2017.
(Puisi ini terdapat dalam antologi Langit Senja Jati Gede)


Tentang Penulis : 

Q Alsungkawalahir di Tasikmalaya dan besar di Lampung Barat. Tulisannya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di sejumlah media, tergabung juga dalam buku MY HOPE 2017, EMBUN EMBUN PUISI, MAZHAB RINDU, EMBUN PAGI LERENG PESAGI, dan yang terbaru EPITAF KOTA HUJAN (TPAT) SENYUMAN LEMBAH IJEN (Kemah Sastra Banyuwangi) ANTOLOGI PEMATANG SIANTAR (tugu Sastra Pematangsiantar) ANTOLOGI PUISI SOEKARNO CINTA & SASTRA (Bengkulu) dll. Saat ini aktif sebagai pengurus di Komunitas Sastra (Komsas SIMALABA) Lampung Barat.


No comments